Random Favorite Quote

Tuesday, July 13, 2010

There's more to than meets the eye

Kayaknya gw pernah nulis tentang dualisme (menurut gw haha).

Menurut gw, gw inkonsisten. Gw juga gak pernah menyetujui 100% sesuatu (mungkin, beberapa ada sih ;p). Jadi, pendapat gw akan 1 hal bisa saling bertolak belakang. Gw suka bingung ama pemikiran gw yang ini. Apa ada hubungannya ama golongan darah gw yang AB? Apa gw ini terdiri dari 2 entity yang berbeda? Hahaha.

Menurut gw, gw berpikiran itu karena, gw selalu mencoba tidak menolak 100% sesuatu dan tidak menerima 100% sesuatu. Ha, gw orangnya susah percayaan ya? Tapi gak juga sih.

Gw percaya gak ada yang absolut di dunia ini. Orang mencuri, dia gak 100% bersalah karena dia bisa aja mencuri karena terpaksa atau hal-hal lainnya yang kita gak bisa lihat secara hitam-putih.

I believe in gray areas.

Gw jadi keinget ama salah satu cerita Nabi Musa bersama Nabi Khidir. Hmm, bagi yang belum tau, jadi ceritanya beginii...

(COPAS DARI WIKI , LOL)

Kejadian yang pertama adalah saat Nabi Khidir menghancurkan perahu yang ditumpangi mereka bersama. Nabi Musa tidak kuasa untuk menahan hatinya untuk bertanya kepada Nabi Khidir. Nabi Khidir memperingatkan janji Nabi Musa, dan akhirnya Nabi Musa meminta maaf karena kalancangannya mengingkari janjinya untuk tidak bertanya terhadap setiap tindakan Nabi Khidir.

Selanjutnya setelah mereka sampai di suatu daratan, Nabi Khidir membunuh seorang anak yang sedang bermain dengan kawan-kawannnya. Peristiwa pembunuhan yang dilakukan oleh Nabi Khidir tersebut membuat Nabi Musa tak kuasa untuk menanyakan hal tersebut kepada Nabi Khidir. Nabi Khidir kembali mengingatkan janji Nabi Musa, dan beliau diberi kesempatan terakhir untuk tidak bertanya-tanya terhadap segala sesuatu yang dilakukan oleh Nabi Khidir, jika masih bertanya lagi maka Nabi Musa harus rela untuk tidak mengikuti perjalanan bersama Nabi Khidir.

Selanjutnya mereka melanjutkan perjalanan hingga sampai disuatu wilayah perumahan. Mereka kelelahan dan hendak meminta bantuan kepada penduduk sekitar. Namun sikap penduduk sekitar tidak bersahabat dan tidak mau menerima kehadiran mereka, hal ini membuat Nabi Musa merasa kesal terhadap penduduk itu. Setelah dikecewakan oleh penduduk, Nabi Khidir malah menyuruh Nabi Musa untuk bersama-samanya memperbaiki tembok suatu rumah yang rusak di daerah tersebut. Nabi Musa tidak kuasa kembali untuk bertanya terhadap sikap Nabi Khidir ini yang membantu memperbaiki tembok rumah setelah penduduk menzalimi mereka. Akhirnya Nabi Khidir menegaskan pada Nabi Musa bahwa beliau tidak dapat menerima Nabi Musa untuk menjadi muridnya dan Nabi Musa tidak diperkenankan untuk terus melanjutkan perjalannya bersama dengan Nabi Khidir.

Selanjutnya Nabi Khidir menjelaskan mengapa beliau melakukan hal-hal yang membuat Nabi Musa bertanya. Kejadian pertama adalah Nabi Khidir menghancurkan perahu yang mereka tumpangi karena perahu itu dimiliki oleh seorang yang miskin dan di daerah itu tinggallah seorang raja yang suka merampas perahu miliki rakyatnya.

Kejadian yang kedua, Nabi Khidir menjelaskan bahwa beliau membunuh seorang anak karena kedua orang tuanya adalah pasangan yang beriman dan jika anak ini menjadi dewasa dapat mendorong bapak dan ibunya menjadi orang yang sesat dan kufur. Kematian anak ini digantikan dengan anak yang shalih dan lebih mengasihi kedua bapak-ibunya hingga ke anak cucunya.

Kejadian yang ketiga (terakhir), Nabi Khidir menjelaskan bahwa rumah yang dinding diperbaiki itu adalah milik dua orang kakak beradik yatim yang tinggal di kota tersebut. Didalam rumah tersebut tersimpan harta benda yang ditujukan untuk mereka berdua. Ayah kedua kakak beradik ini telah meninggal dunia dan merupakan seorang yang shalih. Jika tembok rumah tersebut runtuh, maka bisa dipastikan bahwa harta yang tersimpan tersebut akan ditemukan oleh orang-orang di kota itu yang sebagian besar masih menyembah berhala, sedangkan kedua kakak beradik tersebut masih cukup kecil untuk dapat mengelola peninggalan harta ayahnya. Dipercaya tempat tersebut berada di negeri Antakya, Turki.

Akhirnya Nabi Musa as. sadar hikmah dari setiap perbuatan yang telah dikerjakan Nabi Khidir. Akhirya mengerti pula Nabi Musa dan merasa amat bersyukur karena telah dipertemukan oleh Allah dengan seorang hamba Allah yang shalih yang dapat mengajarkan kepadanya ilmu yang tidak dapat dituntut atau dipelajari yaitu ilmu ladunni. Ilmu ini diberikan oleh Allah SWT kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Nabi Khidir yang bertindak sebagai seorang guru banyak memberikan nasihat dan menyampaikan ilmu seperti yang diminta oleh Nabi Musa dan Nabi Musa menerima nasihat tersebut dengan penuh rasa gembira.



Ya jadi gitu deh. Kadang sesuatu itu gak seperti yang kita lihat. Ada banyak banget hal yang tersembunyi di dalamnya. There's more to than meets the eye XD. Jadi gw gak bisa dengan cepat 100% menerima sesuatu dan 100% menolak sesuatu. Haha.

Monday, July 12, 2010

Tarot

Gw gak suka ama ramalan. Abisnya kalo dapet yang jelek, nyebelin. Hahaha.

Akhir-akhir ini gw seneng ama Tarot. Karena gw maen game Persona sih. Hahaha. Jadi yah, di game itu masing-masing karakter mempunyai arcana (Major) sendiri-sendiri.

Hmm. Gw jadi mikir, arcana gw apa ya? Abisnya menurut gw, gw itu berubah-ubah. Labil. Hahaha! Tapi perubahan gw ini menurut gw sih, ada pattern nya. Tapi gw sendiri gak bisa nebak. Haha. Trus, gw juga sering melontarkan pendapat yang gak absolut jawabannya. Maksudnya, gw sering misalnya disuruh milih antara 2, gw akan bingung memilih diantara 2 itu karena bagi gw masing-masing ada kekurangan dan kelebihannya. Huh, pusing ya. Hahaha.

Jadi intinya gw bingung deh harus masuk di kategori apa. Devil? Wuaa. Empress? Kayaknya gak gw banget deh.

Hmm. Gw harus konsul ama ahli Tarot XD

Emosi

Gw pernah post sesuatu tentang 'mengontrol perasaan'. Pernah terlintas di pikiran gw, 'apakah kalo mengontrol perasaan kita itu sama dengan membohongi perasaan kita sendiri atau membohogi kebenaran?'

Menurut gw nggak. Karena, mengontrol perasaan (baca:emosi) sesungguhnya artinya membuat diri kita mempunyai pilihan atas suatu keadaan. Kadang orang suka bertindak semena-mena atau bertindak bodoh karena dia merasa dia nggak punya pilihan. Padahal, setiap orang punya pilihan. Cuma dibutakan oleh perasaan (baca: emosi) aja. Haha.

Perasaan (emosi) juga bisa bikin kita melihat apa yang emang gak ada. Dibutakan oleh harapan. Terus menggapai, padahal nggak ada apa-apa.

Kadang, apa yang kita lihat dan dengar, memang hanya itulah yang ada. Tapi kadang, indra juga menipu. Karena dunia fana ini menipu. Sigh.

Contoh mudah, fatamorgana. Mata kita ngeliat ada air, tapi aslinya, air itu nggak eksis disana.

Butuh semuanya. Logika, intuisi, indra, pengalaman, hati nurani, untuk mengetahui apa yang benar, untuk mengetahui kebenaran yang ada.